Cholip fik'07 Blog

Just another WordPress.com weblog

fisologi

FISIOLOGI SARAF TEPI
Struktur Neuron dan Macam-macam Saraf Tepi
Sistem saraf dibagi menjadi dua baik secara anatomi maupun secara fisiologis, yaitu susunan saraf pusat (SSP)dan susunan saraf tepi (SST).

Pada pembahasan ini yang akan dibahas adalah Sistem Saraf Tepi (Perifer), antara lain:
•    Struktur dasar suatu neuron.
•    Sifat eksitable, potensial aksi dan sistem konduksi.
•    Beberapa tipe saraf tepi.
Fungsi utama saraf tepi adalah konduksi impuls dari reseptor menuju saraf pusat (medulla spinalis atau otak), yang disebut ssraf sensoris. Sedangkan saraf tepi yang enghantarkan impuls dari saraf pusat ke organ yang dilayani (efektor) adalah saraf motorik.
Struktur Dasar Neuron
Sel fungsional yang menyusun jaringan saraf adalah sel saraf / neuron, sel penunjang disebut sel glia atau neuroglia. Neuroglia yang terdapat di jaringan saraf tepi adalah oligodendrosit, yang disebut sel schwann.
Potensial Membran
Pada membran sel terutama sel yang peka terhadap rangsangan terdapat suatu potensial listrikyang disebut potensial membran. Potensial ini terjadi karena perbedaan kensentrasi ion yang terdapat di intrasel dengan ekstraselluler, terutama ion Na+  yang tinggi di ekstrsel, dan K+ di intrasel, serta Cl-. Apabila potensial membran diukur pada waktu sel istirahat disebut potensial membran istirahat (resting membran potential) atau transmembran potensial istirahat. Transmembran potensial pada axon antara didalam dengan diluar sel pada keadaan istirahat adalah -70mV s/d -90mV, yang menunjukkan elektris didalam sel lebih negatif dibanding diluar. Perbedaan ini tergantung karena perbedaan konsentrasi elektrolit antara didalam dan diluar membran sel.
Membran neuron atau neurelemma mempunyai tipe reseptor dan saluran ion yang spesifik. Saluran ion yang sangat berhubungan dengan konduksi impuls adalah voltage gated natrium channels (saluran ion natrium yang dipengaruhi oleh perubahan voltase elektris).
Potensial aksi, potensial lokal, Hukum All or None
Neuron serta sel otot termasuk jaringan eksitabel (excitability tissue). Jaringan eksitabel adalah jaringa ataua sel apabila mendapat rangsangan yang adekuat (mencapai nilai ambang) maka akan memberi jawaban atau respon yang spesifik yaitu berupa suatu potensial aksi (action potential). Potensial aksi merupakan manfestasi antara didalam dan diluar membran sel yang direkam dengan suatu oscilloscope (CRO : Cathode ray oscilloscope). Perubahan ini diakibatkan karena perubahan konsentrasi elektrolit didalam maupun diluar sel.
Elektrolit utama yang berperan terhadap perubahan potensial antara didalam dan diluar membran eksitabel adalah Na, K, dan Cl.Saluran ion yang sangat berhubungan dengan konduksi impuls adalah voltage gated natrium channels (saluran ion natrium yang dipengaruhi oleh perubahan voltase elektris). Selain saluran ion Na, juga terdapat saluran ion K, Ca, Cl maupun ion yang lainnya. Pada keadaan istirahat ion Na (sodium) jauh lebih banyak dibandingkan didalam sel, kebalikan ion potassium (Kalium) jauh lebih banyak didalam dibanding diluar sel.
Pada keadaan istirahat ion Na (sodium) jauh lebih banyak dibanding didalam sel, kebalikannya ion K (potasium) jauh lebih banyak didalam dibanding diluar sel. Rangsangan adekuat pada sel eksitabel akan memberi jawaban berupa suatu potensial aksi. Potensial aksi yang terjadi mengikuti hukum All or nothing (All or none) dan dirambatkan kesemua arah (propagation). Rangsangan yang tidak mencapai treshold (nilai ambang), hanya menimbulkan potensial lokal yang tidak akan disebarkan. Rangsangan adekuat atau mencapai nilai ambang, baik yang besar atau yang kecil akan menimbulkan potensial aksi yang sama besar. Artinya, potensial aksi tidak akan bertambah besar biarpun rangsangan diperbesar. Pada fase depolarisasi – potensial aksi, ion Na masuk kedalam sel, sedangkan pada fase repolarisasi, ion potasium keluar dari dalam sel.
Rangsangan yang adekuat menyebabkan permiabilitas membran terhadap ion Na meningkat (menyebabkan saluran ion Na terbuka : terbukanya voltage gated sodium channels) sehingga ion Na masuk kedalam (nflux), oleh karena ion Na membawa muatan positif maka didalam sel akan lebih positif dibanding diluar sel, fase ini disebut fase depolarisasi. Selanjutnya ion K keluar, sehinga diluar sel kembali lebih positif dan keadaan ini disebut fase repolarisasi.
Macam-macam rangsangan yang dapat menimbulkan potensial aksi pada jaringan eksitabel, yaitu :
•    Rangsangan elektris
•    Rangsangan kimiawi
•    Rangsangan mekanis
•    Rangsangan thermis.
Berdasarkan intensitas dan frekuensi rangsangan, maka dapat dibedakan sebagai berikut:
•    Rangsangan subliminal : rangsangan dengan intensitas lebih kecil dari nilai ambang (treshold) yang hanya mengakibatkan terjadinya respon berupa potensial lokal.
•    Rangsangan liminal : rangsangan terkecil yang sudah menimbulkan terjadinya potensial aksi, oleh karena rangsangan tersebut sudah mencapai nilai ambang.
•    Rangsangan superliminal : rangsangan yang intensitasnya melebihi liminal, tetapi responnya juga menimbulkan potensial aksi yang sama besar dengan potensial  aksi akibat rangsangan liminal (mengikuti hukum All or None).
•    Berdasarkan frekuensinya dapat dibedakan rangsangan tunggal dan rangsangan beruntun (multiple).
Pada penelitian terhadap rangsangan pada sistem saraf maupun otot rangka, biasanya menggunakan rangsangan elektris karena beberapa alasan, antara lain :
•    Intensitas rangsangan dapat terukur
•    Durasi rangsangan dapat terukur
•    Frekuensi rangsangan dapat terukur
•    Kerusakan pada sistem saraf relatif lebih kecil
•    Dapat diulang, sehingga dapat dilakukan rangsangan secara beruntun (multiple)
•    Relatif lebih rendah pelaksanaannya.
PERIODE REFRAKTER
Periode refrakter ada 2 macam yaitu periode refrakter absolute (ARP) & periode refrakter relatif (RRP). Sel eksitabel yang sedang dalam keadaan fase refrakter, berarti sedang mengalami potensial aksi dalam keadaan refrakter, apabila dirangsang tidak akan terjadi jawaban (kepekaan membran sel sangat rendah).
PENGHANTAR IMPULS / SISTEM KONDUKSI
Potensial aksi, dihanterkan sepanjang membran sel neuron, apabila axon tersebut bermyelin, maka penghantaran impuls dilakukan secara meloncat (saltatory), yaitu meloncat pada node of ranvaier. Potensial aksi terjadi karena terbukanya saluran ion Na, disusul dengan terbukanya saluran ion sekitarnya.
Makin tebal axon, makin tebal pula selubung myelinnya dan semakin cepat penghantaran impulsnya. Selubung myelin berasal dari protoplasma sel schwann yang membungkus akxon secara berlapis – lapis, selubung tersebut bersifat isolator terhadap konduksi impuls. Sehingga konduksi impuls pada neuron bermyelin secara melompat (saltatory conduction), dan konduksi osilatori ini jauh lebih cepat dibanding konduksi pada saraf yang tidak bermyelin. Saltatory conduction terjadi dengan meloncatnya impuls dari node of ranvier satu ke yang lain. Pada ujung – ujung axon tidak didapatkan selubung myelin.
BEBERAPA TIPE SARAF TEPI
Lamanya suatu potensial aksi tergantung pada jenis sarafnya, makin besar diameter axon suatu neuron makin pendek lamanya potensial aksi serta makin cepat penghantaran impulsnya. Pada neuron yang bermyelin, kecepatan penghantarannya lebih cepat dibanding dengan neuron yang tidak bermyelin. Erlager dan Gasser membagi serabut saraf pada mamalia menjadi 3 tipe yaitu A, B, dan C, seperti pada tabel berikut :

ANESTESI LOKAL
Pada umumnya anestesi lokal dilakukan terhadap konduksi impuls nyeri pada saraf sensori perifer baik yang bermyelin ataupun yang tidak bermyelin. Konduksi impuls berhent    i pada tempat bekerjanya anestesi lokal tersebut, akibatnya impuls nyeri tidak mencapai saraf pusat. Sehingga daerah yang dienerfasi saraf tepi tersebut tidak merasakan sensasi nyeri.
Anestesi lokal akan menghambat konduksi impuls nyeri sepanjang axon maupun dendrit dengan cara menutup saluran ion natrium (closing transmembrane sodium channels), tetapi tidak mempengaruhi RMP (resting membrane potential) dan juga tidak mempengaruhi metabolisme sel saraf. Saluran ion Na di neuron mempunyai local anesthetic binding site yang didalamnya terdapat tranlation mofement of helical protein subunit yang dapat berubah konfigurasinya oleh karena muatan-muatan listrik yang terjadi, sehingga saluran ion bisa membuka dan menutup. Anestesi lokal akan mengunci protein subunit, sehingga konfigurasi molekulnya tidak dapat berubah, akibatnya saluran terus menutup atau tidak dapat menghantarkan impuls.

May 1, 2010 - Posted by | Kuliah, Sport Science | , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: